
Hati ini sudah tak berkata lagi
Ajakan ilahi tak dihiraukan lagi
Serakah di malam yang tenang
Hasrat maut merasuki jiwa
Tak puas dia menatap keparat malam
Nafsu mengalir memanaskan badan
Tanpa kata dia merayap di malam yang gelap
Dia sedih, dia menjerit
Tapi beban hidup sulit dipikul
Dia pantang menyerah pada hambatan
Tapi rasa panas di dada membakar jiwa tak berdaya
Matanya menatap di segala arah
Tak tahu apa yang harus dibuat lagi
Dalam keheningan malam jiwanya hilang terbawa hasrat belaka
Dia sebenarnya bisa
Tuk bangkit mengumpulkan kembali keping-keping
yang kini tercecer tak teratur
Dia sebenarnya bisa
Meninggalkan cerita lama yang merusak keutuhannya
Dia sebenarnya bisa
Melupakan paras tersayang yang bermain mesrah dalam hayalannya
Dia sebenarnya bisa
Melicinkan hasrat akan permata cinta yang bersinar
Dia sebenarnya bisa
Mengisi waktu mengais kasih yang teralir di hati
Ya, dia sebenarnya bisa
Membuka lembaran baru di atas puing-puing yang berserakan
Di hari esok dia suka bermimpi indah
Bayangan akan senyuman yang akan memancar lagi di wajahnya
Kegembiraan akan tawa ria bersama sobat-sobatnya
Nuansa jiwa yang padat dengan kasih sayang
Tapi...kapankah hari esok akan tiba?
Ya, dia masih tertidur lelap
Dalam reruntuhan jiwa di malam yang gelap
Dia tertidur lelap
Dia mungkin akan sadar ketika jiwa tak ada lagi.